January 31, 2012 § Leave a Comment
“If we, citizens, do not support our artists, then we sacrifice our imagination on the altar of crude reality and we end up believing in nothing and having worthless dreams.”
Yann Martel, Life of Pi
October 5, 2012 § Leave a Comment
Halo, saya Jani!
April 24, 2012 § Leave a Comment
Jani adalah seorang suporter yang menggunakan Wujudkan sebagai sarana berperan aktif dalam karya kreatif yang ia suka. Bagaimana cara Jani melakukannya? Yuk tonton video ini.
Perkenalkan: Joni!
April 24, 2012 § Leave a Comment
Joni adalah seorang kreator yang menggunakan Wujudkan sebagai sarana menggalang dana. Bagaimana cara Joni melakukannya? Yuk tonton video ini.
Gunung Itu Tetap Tinggi, Bendera Kita Juga Masih Berkibar (Sebuah Catatan Tentang Ibu Soed)
April 4, 2012 § Leave a Comment
(Bagian 2 – selesai)
Ibu Soed bertanya lagi, “Tadi, waktu ke sini, Prima ingat sempat lihat apa saja di jalan?” Saya menjawab, “Banyak, tapi engga ingat betul bu. Maksudnya apa ada yang spesifik atau tidak.” Ibu Soed mengangguk, “Itu biasa, kalau kita rasa sudah jelas mau kemana, kita sering jadi tidak mengamati perjalanannya karena lebih fokus ke tujuannya kan?” Saya mengangguk setuju. Di titik ini saya tahu betul narasumber saya jelas ada di kelas ‘berat’ kalau tidak mau dikatakan sudah moksa atau satu angkatan dengan tokoh fiktif pujaan saya, Yoda. “Ibu kepingin sekali anak-anak Indonesia itu selalu belajar dari hal-hal yang dekat sekali dengan kehidupan mereka sehari-hari, entah itu hujan, atau kupu-kupu yang kalau tidak kita perhatikan mungkin sulit kita pahami di mana lucunya, atau ketika jalan-jalan mendaki gunung daripada dibebani target karena puncak gunungnya masih jauh, kan lebih baik menikmati perjalanannya? Toh, lama-lama akan sampai?” Papar ibu Soed lagi. Saya sudah kehilangan niat membombardir beliau dengan rentetan pertanyaan, narasumber saya itu dengan murah hati dan suka rela justru mengundang saya ke alam pikirnya yang sedemikian kaya dan seolah tidak bertepi.
Di menit-menit berikutnya ibu Soed mengisahkan impiannya melihat anak-anak Indonesia bisa menyanyikan lagu dalam bahasa Indonesia dengan hati gembira dan bersemangat. “Jadi, ibu akan pilihkan kata-kata yang bisa dinyanyikan dengan jelas, mudah dipahami dan mudah diingat oleh semua anak Indonesia. Bisa dinyanyikan sendirian, juga bisa dinyanyikan sama-sama. Karena lagu ibu itu memang untuk dinyanyikan siapa saja, bukan hanya oleh penyanyi. Lagu yang dibuat untuk penyanyi hanya bisa dinyanyikan sedikit orang, yang lainnya (yang tidak bisa menyanyi-ed.) hanya bisa ikut menikmati,” jelas beliau lagi. Mengingat kembali percakapan saat itu, saya menangkap maksud ibu Soed untuk menjelaskan sejumlah pemikiran konseptual seperti ‘kebersamaan’, ‘nilai’, ‘kesetaraan’, ‘keragaman’, ‘multi-kulturalisme’, ‘patriotisme’ tanpa sekalipun beliau menggunakan istilah-istilah hebat itu. Jiwa pendidik di dalam diri ibu Soed lebih ingin memastikan wartawan magang/mahasiswa seperti saya memahami inti dari pemikiran beliau untuk kemudian menyarikannya ke dalam bahasa saya. Berapa sering seorang ‘anak magang’ diberikan ruang seluas apa yang pernah diberikan sosok ibu Soed kepada saya? Dan percayalah saya cukup bodoh dan perlu waktu amat panjang untuk tiba di tingkatan apresiasi terhadap sikap yang diabadikan melalui karya-karya ibu Soed.
Beberapa tahun setelah percakapan tersebut, saya mendapat kabar beliau berpulang. Di kisaran kurun waktu yang sama, saya baru menyadari bahwa lagu Naik Becak diciptakan ibu Soed di 1942. Sebuah tahun yang muram akibat dominasi Jepang di Asia Tenggara, di tahun itu pula pemerintahan Hindia Belanda menyerah pada Jepang. Sadar atau tidak, ibu Soed memilih menawarkan optimisme pada anak-anak Indonesia dengan bertamasya naik becak, yang digambarkannya sebagai ‘kereta tak berkuda’. Bahkan keganasan perang pun rupanya tak boleh merampas keriangan dunia anak-anak versi ibu Soed. Pilihan cara pandang ibu Soed yang memihak pada dunia anak-anak di tengah perang/tekanan ini jauh lebih dahulu dari apa yang dilakukan Roberto Benigni di film Life is Beautiful (1997). Ibu Soed yakin bahwa keceriaan anak-anak Indonesia adalah modal untuk bisa tetap optimis dan mampu melakukan beragam hal positif, sejak bangun tidur di pagi hari-silakan simak cuplikan syair Pergi Belajar,“O Ibu dan Ayah selamat pagi, ku pergi belajar sampai kan nanti..” Keceriaan pula yang menurutnya membuat sosok anak bisa menghargai diri sendiri dan orang lain, termasuk orang tua, guru dan kawan-kawannya. Ibu Soed menempatkan sosok setiap anak Indonesia sebagai bagian dari lingkungan sosial yang lebih besar, bisa sebagai tokoh anak dari sebuah keluarga, atau kawan, atau sosok yang harus mencapai tujuan dengan berinteraksi dengan orang lain seperti pengemudi becak.
Sosok ‘kawan’ juga penting bagi ibu Soed seperti ketika beliau mengguratkan lagu Berkibarlah Benderaku. Lagu ini terinspirasi oleh perjuangan salah satu kawan ibu Soed, (alm.) Joesoef Ronodipoero kala mempertahankan kibaran bendera merah putih di gedung stasiun Radio Republik Indonesia pada agresi Belanda pertama di 1947. Ibu Soed juga memainkan biola mengiringi pagelaran perdana lagu Indonesia Raya ciptaan sahabat beliau, W.R. Soepratman di kongres Pemuda pertama di 1928. Bila kita renungkan kembali, sosok seorang perempuan yang kelak kita kenal sebagai ‘ibu Soed’ ini, alangkah mudah baginya untuk terperangkap di dalam zaman yang memungkinkannya ‘sekedar’ ikut-ikutan berkarya melalui seruan-seruan propaganda atau melakoni peran ‘just the girl among the guys’ sesuai dengan kondisi saat itu, dan juga karena pergaulannya dengan sejumlah musisi besar seperti Cornel Simandjuntak, Ismail Marzuki, W.R. Soepratman. Jelas ia mendukung kawan-kawannya membunyikan genderang perang, namun ibu Soed memastikan di lini ‘belakang’, di pekarangan rumah-rumah keluarga Indonesia, anak-anak Indonesia senantiasa ceria, bebas dari rasa takut, dan menjadi pandai dari kejelian mengamati hal-hal di sekitar mereka, serta tak pernah melupakan tempat kaki-kaki mereka berpijak seperti di Desaku atau juga Tanah Airku yang sanggup membuat kita bergidik setiap kali mendengar lantunan lagu ini. Pilihan sikap ibu Soed telah menjadikan anak-anak Indonesia, termasuk Anda dan saya-punya suara yang setara.
Hari ini, sekian tahun setelah kepergian beliau, sudah sepantasnya kita ikut mengurus warisan tak ternilai dari ibu Soed bagi anak-anak Indonesia. Kenapa? Karena, ada sisi dan kualitas terbaik dari kita (baca: orang Indonesia) seperti sederhana, riang hati, bersemangat pantang menyerah, serta bisa menerima dan menghargai perbedaan, yang senantiasa terangkum di dalam lagu-lagu ciptaan ibu Soed yang bisa dengan mudah kita pahami dan praktikkan dengan ikhlas tanpa kening berkerut apalagi rasa terpaksa.
oleh Prima Rusdi, penulis skenario film
Dukung album Popzzle, Tribute to Ibu Soed, dan berikan kesempatan anak-anak kita mendengarkan lagu sesuai usia mereka.
Gunung Itu Tetap Tinggi, Bendera Kita Juga Masih Berkibar (Sebuah Catatan Tentang Ibu Soed)
March 28, 2012 § Leave a Comment
(Bagian I)
Di hari lahir saya yang ke empat belas, (alm.) ayah menghadiahkan sebuah buku lawas berjudul Interview with History yang ditulis oleh jurnalis legendaris, Oriana Fallaci. Berisikan wawancara Fallaci dengan 14 tokoh yang jadi penentu arah sejarah dunia pada periode 60’an-70’an, mulai dari Henry Kissinger sampai dengan musuh bebuyutannya, Jenderal Giap. Sejak itu, saya pun bermimpi menjadi seorang jurnalis. Impian itu pula yang mengantar saya ke jurusan ilmu komunikasi massa di Universitas Indonesia. Bahwa hari ini saya justru jadi pembuat film itu cerita lain lagi, tapi ‘akibat’ dari belajar di UI itulah saya harus magang di sebuah media cetak sebagai persyaratan perolehan nilai salah satu mata kuliah.
Setelah sekian bulan magang dengan beragam penugasan sesuai petunjuk editor, belum ada satu tulisan pun dengan by line atas nama saya. Kalaupun ‘nyaris’, tulisan pendek draft ke sekian hasil perjuangan saya itu tergusur oleh materi yang lebih penting: iklan kematian seorang pengusaha. Sampai suatu pagi, editor saya bertanya dengan mimik serius, “Kau bisa nyanyi?” Saya panik, “Enggak bisa Bang!” Editor saya cengengesan,”Siapa yang suruh kau nyanyi? Kau ikut rapat redaksi kemarin kan? Edisi hari anak-anak? Reporter X sakit, jadi kau yang wawancara Ibu Soed! Coba kau sebut satu judul karangannya?” Saya jawab dengan yakin,“Naik Naik ke Puncak Gunung!” Editor saya mengangguk,”Betul! Kalau kau jawab Begadang itu Rhoma Irama! Berangkat kau sekarang!”
Berbekal selembar keterangan latar belakang mengenai ibu Soed yang diberikan oleh editor saya, saya pun menuju kediaman ibu Soed. Saya sadar persiapan wawancara dengan beliau sungguh minim, mengingat ini tugas dadakan. Sementara, di sisi lain saya sadar betul wawancara itu adalah peluang saya untuk memperoleh tulisan yang pasti akan dicetak dengan nama saya selaku penulisnya. Dijelaskan di lembaran keterangan, nama asli ibu Soed adalah Saridjah Bintang Soedibjo. Beliau tercatat telah menciptakan hampir 500 judul lagu anak-anak. Pemicunya antara lain karena ibu Soed prihatin melihat anak-anak Indonesia yang kurang gembira akibat kondisi negara yang terus dilanda beragam kericuhan pada kisaran 1925-1941. Saya menandai bagian tersebut sebagai ‘informasi menarik’, karena tak pernah terpikir oleh saya sebelumnya di kala sebuah negara sedang berada dalam keadaan gundah adakah yang sempat memperhatikan anak-anak yang tentunya ikut terdampak? Rupanya peran inilah yang diambil ibu Soed di masa itu. Kemudian, dijelaskan pula sosok ibu Soed yang aktif di masa pergerakan dan aktifitasnya selaku pengajar/pendidik di sejumlah sekolah. Di antaranya ibu Soed pernah menjadi guru musik HIS Petojo.
Saya mencoba membayangkan bagaimana wawancara itu akan berlangsung, apa yang terjadi bila arah percakapan akan menyinggung soal teori musik? Sebagian dari masa kecil saya diisi dengan kejengkelan terhadap guru piano yang full aturan plus hukuman akibat kemalasan saya berlatih dengan panduan buku Schmidt yang menurut saya amat membosankan. Saya tidak yakin ibu Soed selaku mantan guru musik akan tertarik bicara pada wartawan pemula dengan reputasi suka ‘melawan’ guru piano. Karena itu, saya menetapkan strategi untuk ‘menggali’ soal pilihan ibu Soed menciptakan lagu untuk anak-anak. Beberapa lagu ciptaan beliau terngiang di kepala saya. Naik Naik ke Puncak Gunung yang diakuinya tinggi sekali, jauh berbeda dari penggambaran yang meromantisir betapa sulitnya perjuangan untuk mencapai puncak gunung versi pecinta alam. Kesan yang ditimbulkan lagu ini justru santai dan menyejukkan hati. Lalu saya mengingat Lihat Kebunku, kok sederhana banget ya? Batin saya mulai sok tahu. Bayangkan, sosok si penyanyi lagu ini mengajak pendengar untuk melihat kondisi kebun di rumahnya. Konon kebun itu penuh dengan bunga aneka warna dan jenis yang semuanya indah, lalu? Selesai. Lalu salah satu hit ikonik ibu Soed, Tik Tik Bunyi Hujan, bicara soal suara hujan menyentuh genting akibat air yang turun dan menjadikan segalanya basah. Juga sederhana sekali kan? Kenapa harus sesederhana itu? Dan kata kunci ‘sederhana’ itupun menjadi pilihan saya untuk berbincang dengan ibu Soed.
Sejurus kemudian saya duduk di beranda rumah ibu Soed yang sudah menyiapkan teh dan panganan kecil untuk percakapan kami siang itu. Seperti rencana semula, saya mencoba mengulik soal kesederhanaan lagu-lagu beliau. “Sekarang ibu yang tanya Prima, ibunya Prima tanam apa di kebun?” ibu Soed menatap saya sambil tersenyum sabar. “Aduh, apa ya? Kok saya malah lupa,” jawab saya canggung. Aneh, saya sungguh-sungguh tak ingat apa saja yang ditanam di halaman rumah orang tua saya. Kali ini ibu Soed tersenyum lebih lebar,”Justru itu maksud ibu, wajar sekali kalau kita cenderung lupa memperhatikan yang ada di dekat kita. Padahal, yang di sekitar kita itulah yang penting kita amati.” Saya terpana.
(Bersambung ke bagian-2)
oleh Prima Rusdi, penulis skenario film
Dukung album Popzzle, Tribute to Ibu Soed, dan berikan kesempatan anak-anak kita mendengarkan lagu sesuai usia mereka.
We have something brewing for you
February 1, 2012 § Leave a Comment
Welcome to our blog.
We are a group of people who believe that Indonesia doesn’t lack creativity, what our creative people lack is support. They have a hard time finding financing for their projects, because they usually try to find it from one or two big investors, government funding, or international funding. This method can only support a fraction of creators, leaving many interesting projects unrealized, even though they have their own audience, their own market (no matter how niched) and their own fans.
I know this first hand, because I’m one of them.
Right now, we are preparing a website where everyone can take part and support creative projects that they think should be made. The website will be called Wujudkan, and if you go to wujudkan.com right now, you can leave your email address so we know where to contact you when the site’s ready. And it won’t be long anymore :)
We will soon unveil the site, and you can soon see and browse through the interesting projects we have selected for you. Through three simple steps of what we call: FIND – FUND – FUN, you can:
1. FIND projects that you think should be made and tweet or reshare about it through your social network accounts,
2. FUND the projects to make sure it gets made, and
3. Have FUN getting the love and the gratitude and the rewards from the creators!
If you’re a creator who has a project that needs support, send your work through the website, and when it gets featured, all you have to do is CAMPAIGN – COLLECT – CREATE:
1. Do the CAMPAIGN on your project to raise funds through Wujudkan. Set-up the funding target, set-up the campaign duration, then spread the word everywhere, all the time.
2. When you meet (or exceed) your target budget by the end of the campaign, COLLECT the funds.
3. All you have to do now is CREATE! Make the project as you have always visioned it in your mind. But don’t forget to send the rewards you have promised to your supporters. Don’t lose their trust, and for sure they will support your next project!
Wujudkan is about us. Creators become free to bring their ideas into reality, free from constraints of money, and you get to choose which project you’d like to see materialized. With Wujudkan, you can help bring great creative projects to life.


