Jenis-jenis Kreasi yang Diterima di Wujudkan.com

Wujudkan.com berangkat dari semangat untuk memajukan industri kreatif di Indonesia. Maka tidak heran, jika Kreasi yang diterima di Wujudkan.com adalah segala sesuatu yang masuk dalam payung besar industri kreatif. Lalu, pertanyaan yang timbul selanjutnya adalah, apa saja jenis Kreasi yang masuk dalam kategori industri kreatif, dan dapat diterima di Wujudkan.com?

Mari sama-sama kita lihat acuannya di sini: http://id.wikipedia.org/wiki/Industri_kreatif .

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif membuat ketentuan mengenai industri kreatif ini. Di bawah payung industri kreatif, terdapat 15 jenis sub sektor yang merupakan industri berbasis kreativitas di Indonesia. Yaitu:

1. Film

2. Penelitian

3. Permainan Interaktif

4. Musik

5. Arsitektur

6. Seni Pertunjukan

7. Penerbitan dan Percetakan

8. Desain

9. Fashion

10. Periklanan

11. Pasar Seni

12. Kerajinan

13. Layanan Komputer dan Piranti Lunak

14. Televisi dan Radio

15. Kuliner

Nah, 15 sub sektor inilah yang masuk dalam “Jenis-jenis Kreasi yang Diterima di Wujudkan.com”.

Hingga saat ini, hampir seluruh 15 jenis Kreasi itu telah diterima dan menjalankan kampanye crowdfunding-nya di Wujudkan.com. Tentu tidak semua kategori dapat terwujud. Namun beberapa jenis Kreasi justru telah berulang kali berhasil terwujud. Misalnya saja, kategori film. Paling tidak, sudah ada Atambua 39 Derajat Celcius, Banyu dan Elektra Menyalakan Kota, Roman Jagat dan Lelang Harga Sang Pemangsa, yang jika ditotal berhasil mengumpulkan dana hingga lebih dari 300 juta!

Begitu pun dengan kategori Riset dan Pengembangan. Lihat saja Ekspedisi Literasi Papua – Sokola, New Year for Cancer Children, dan Angkot Day yang mengumpulkan lebih dari 200 juta. Bagaimana dengan kategori yang terbilang jarang terdengar, seperti arsitektur? Kami punya Kreator bernama Yu Sing yang berhasil mewujudkan Kreasi arsitekturnya berjudul Papan untuk Semua.

Maka, jangan ragu untuk membuat Kreasi kreatif kamu di Wujudkan.com. Kami menerima beragam jenis Kreasi, selama itu masih di bawah payung bendera industri kreatif. Satu lagi, tentu saja Kreasi kamu harus sesuai dengan syarat dan ketentuan yang berlaku di Wujudkan.com. Mari buat Kreasi kreatif yang nggak cuma terbatas di “keren”, tapi juga “berguna” dan dapat “bermanfaat” bagi kehidupan banyak orang.

Kumpul-Kumpul Praktisi Crowdfunding

Untuk pertama kalinya, praktisi Crowdfunding Indonesia berkumpul di Warung Solo, Kemang, untuk silahturahmi dan berbincang mengenai nasib Crowdfunding Indonesia ke depan. Hadir di kumpul-kumpul kali ini, Mandy Marahimin (Wujudkan.com), Alderina Gracia (Wujudkan.com), Artanto Ishaam (Wujudkan.com), Jaenal Gufron (Ayo Peduli), M Alfatih Timur (Kita Bisa), Badar Motik (Kita Bisa), Vikra Ijas (Kita Bisa), Jennifer Tan (Mekar.biz) dan Lucky Andrianto (Mekar.biz).

Meskipun pertemuan ini terjadi antara Crowdfunding yang bergerak dalam lingkup yang berbeda-beda, namun semua memiliki kepedulian yang sama terhadap terbentuknya ekosistem Crowdfunding di Indonesia. Ayopeduli dan Kitabisa adalah Crowdfunding donasi-reward untuk proyek sosial, Mekar.biz adalah Crowdfunding pinjaman untuk UKM, sementara Wujudkan.com adalah Crowdfunding donasi-reward untuk industri kreatif.

Dalam suasana yang guyub, masing-masing peserta mengungkapkan cita-cita dan harapannya terhadap perkembangan Crowdfunding di Indonesia. Walaupun situs Crowdfunding donation-reward based seperti Wujudkan.com tidak memerlukan aturan hukum khusus, Wujudkan.com menganggap perlu adanya kejelasan hukum mana saja yang bisa dipakai untuk landasan operasional. Hal ini diamini oleh semua praktisi Crowdfunding lainnya.

Pada malam itu, disimpulkan juga bahwa untuk memajukan nasib Crowdfunding Indonesia dibutuhkan sebuah asosiasi. Asosiasi ini akan menaungi praktisi Crowdfunding dalam mengadakan komunikasi dengan pemerintah maupun masyarakat, untuk menciptakan ekosistem yang kondosif bagi perkembangan industri Crowdfunding di Indonesia. Mari kita tunggu hadirnya asosiasi tersebut!

Minggu Ini: Ayo Jelajahi Pesona Nusantara!

Minggu ini, Wujudkan.com punya dua Kreasi film yang siap Diwujudkan. Film pertama menunjukkan pesona Lombok yang menurut mereka, siap bikin siapa pun nggak mau pulang! Kedua, film yang mengangkat tema multikultural yang kadang rumit, coba dihadirkan dalam visual yang lebih ringan dan menarik.

Jangan ke Lombok (Nanti Nggak Mau Pulang)

jangan ke lombok

Kesalahan membeli tiket, tiba di destinasi yang mereka tidak tahu sama sekali, hingga kehilangan alat komunikasi dan identitas yang tertukar. Konflik ini membuat 6 orang turis domestik berkumpul di Lombok dan menjalani perjalanan yang nggak mereka duga sebelumnya. Cerita ini masih ditambah dengan visual pesona Pulau Lombok yang serti judulnya, bikin nggak mau pulang ! Yuk, Wujudkan Jangan ke Lombok (Nanti Nggak Mau Pulang), dan siap-siap traveling ke sana!

BA’U

ba'u

Dengan penuh keyakinan, tim Kreasi BA’U mencoba menghadirkan film pendek yang mengangkat tema multikultural menjadi sebuah visual yang menarik. Sebuah tantangan tersendiri, mengingat topik yang mereka angkat sebenarnya cukup serius. Saat ini, mereka sudah melewati proses casting dan siap untuk segera memasuki masa produksi. Dengan berbagai Penghargaan menarik yang menunggu untuk para Pewujud, mari Wujudkan film ini!

Kontribusi Crowd Dalam Pemilu

Oleh: Dondi Hananto
crowdsourcing pemilu

Bagi Anda pembaca blog wujudkan.com mungkin sudah tidak asing dengan istilah crowdfunding. Ya, Wujudkan.com adalah salah satu situs crowdfunding pertama di Indonesia di mana pemilik proyek kreatif atau sosial bisa mengajak crowd-nya untuk membantu mewujudkan proyek tersebut melalui kontribusi dana (funding). Pengertian crowdfunding sendiri lebih sering digunakan untuk proses kontribusi dana beramai-ramai yang secara khusus didukung oleh bantuan teknologi dan media sosial.

Tapi tahukah Anda bahwa crowdfunding adalah hanya satu bagian dari fenomena yang disebut crowdsourcing? Keduanya menggunakan kata ‘crowd” yang mengindikasikan keterlibatan masyarakat luas bukan hanya 1-2 orang saja. Keduanya sangat terbantu dengan kemajuan teknologi terutama internet. Makin luasnya penggunaan media sosial juga semakin mempermudah penyebaran informasi mengenai proyek yang ada di situs crowdsourcing dan crowdfunding.

Kali ini saya ingin membahas mengenai fenomena crowdsourcing yang sangat kental terasa pada pemilu presiden lalu. Saya melihat segala jenis crowdsourcing terjadi di sana, sesuatu fenomena yang sangat jauh berbeda dibanding pemilu presiden 5 tahun yang lalu. Hal ini cukup banyak terjadi dalam pemilu kemarin. Semakin besarnya kesadaran tentang hak suara membuat banyak orang yang merasa tergerak untuk tidak sekedar menggunakan hak pilihnya tetapi juga mengajak orang lain untuk memilih. Ada yang sekedar mengajak untuk memilih dan tetap menjaga netralitas, tetapi tentu banyak juga yang mengajak memilih salah satu pihak.

Kombinasi dari semangat relawan dan kemajuan teknologi memungkinkan sebuah kampanye yang kental bernuansa crowdsourcing, yang melibatkan segala kelompok, bukan hanya para kader partai saja.

Jenis pertama crowdsourcing yang adalah menjaring ide desain dari crowd. Secara pribadi saya dan beberapa rekan pernah mencoba hal ini pada saat ingin mendesain logo perusahaan kami. Yang kami lakukan adalah pergi ke sebuah situs crowdsourcing  desain dan membuat proyek di sana. Kisi-kisi desain yang kami inginkan dideskripsikan (warna, gambar, nuansa, dll) dan kami menetapkan berapa biaya yang kami alokasikan untuk desain ini. Tidak kami duga, dalam 48 jam terkumpul hampir 200 opsi desain logo sesuai kisi-kisi kami, sehingga kami tinggal memilih opsi mana yang paling kami sukai.

Menjelang Pemilu kemarin, begitu banyak relawan yang membantu ‘menerjemahkan’ visi dan misi para capres dari dokumen tebal yang mungkin membosankan untuk dibaca menjadi infografik yang menarik dan mudah dimengerti. Infografik dan meme ini lalu disebarkan dengan cepat melalui media sosial seperti Facebook, twitter, Path dan lainnya.

Salah satu contoh desain yang muncul secara sendirinya oleh relawan adalah gambar ‘seri Tintin’ dari capres Jokowi. Karikatur seri ini dibuat oleh Hari Prast dan Yoga Adhitrisna. Gambar-gambar ini menyampaikan kepada publik mengenai kebiasaan ‘blusukan’ Jokowi dan kedekatannya dengan rakyat. Ini beberapa contohnya

jokowi tintin

Tentu juga banyak lagi desain poster, meme atau infografik untuk kedua pasang capres yang mungkin sudah Anda lihat ketika masa kampanye kemarin. Selain karya kreatif visual, masa kampanye kemarin juga diisi oleh sumbangan lagu tema kampanye oleh relawan kedua belah pihak. Dari pihak Prabowo ada lagu yang ibawakan Ahmad Dhani dengan videonya yang kontroversial, sementara dari pihak Jokowi juga ada beberapa lagu yang dibuat oleh para seniman relawannya. Yang paling banyak terdengar mungkin adallah lagu ‘Salam Dua Jari’ karya Slank dan ‘Bersatu Padu’ karya rapper Yogya, Marjuki Mohammad alias Kill The DJ.

Karya-karya visual dan lagu di atas adalah contoh hasil crowdsourdcing desain dan karya, tipe pertama dari crowdsourcing di mana publik bisa berkontribusi memberikan sebuah karya dengan satu tema yang sama.

Model crowdsourcing kedua adalah membagi pekerjaan yang berjumlah banyak menjadi pekerjaan kecil-kecil yang bisa dilakukan oleh siapa saja (microtask). Dari kacamata saya, Pemilu kemarin adalah salah satu Pemilu yang paling terbuka karena KPU memutuskan untuk membuka data formulir rekap tiap TPS (formulir C3) yang sudah dipindai (scan) ke situs resminya. Hal ini memungkinkan siapapun untuk mengakses situs resmi KPU dan melihat hasil pemungutan suara di tiap TPS.

Namun kesulitannya adalah melakukan rekap total dari data ini karena hanya tersedia dalam bentuk gambar (hasil scan). Sekelompok WNI yang bekerja di luar negeri memutuskan untuk membuat website yang diberi nama kawalpemilu.org. Melalui website ini, siapapun bisa menjadi relawan untuk menginput hasil pemungutan suara dari semua TPS yang pada akhirnya dapat dijumlahkan menjadi perolehan suara nasional. Banyak orang yang peduli kepada hasil Pemilu mengakses situs ini dan membantu proses penginputan. Seorang relawan boleh saja hanya menginput hasil dari 1-2 TPS tetapi banyak yang juga mendedikasikan waktunya untuk menginput hasil dari banyak TPS. Pada akhirnya, hasil rekap versi kawalpemilu.org tidak jauh berbeda dengan hasil rekap resmi versi KPU. Hal ini menjadikan situs kawalpemilu menjadi sebuah mekanisme kontrol dari proses perhitungan suara di KPU. Kawalpemilu adalah sebuah contoh dari crowdsourcing model kedua: pembagian pekerjaan atau mocrotask.

Tipe ketiga crowdsourcing yang sudah tidak asing lagi adalah crowdfunding atau pengumpulan dana. Pengumpulan dana dari simpatisan publik pendukung dilakukan oleh kedua capres di masa kampanye kemarin. Sesuai dengan spirit crowdfunding, pertanggungjawaban hasil pengumpulan dana ini dilakukan secara terbuka. Kedua belah pihak wajib melaporkan sumber dana kampanye kepada KPU. Siapapun yang tergerak untuk membantu bisa menyumbangkan dananya kepada rekening kampanye yang dimiliki oleh kedua capres. Hasilnya, masing-masing capres berhasil mengumpulkan dana lebih dari 100 milyar rupiah!

Bagi saya pribadi, adanya crowdsourcing pada Pemilu kemarin menunjukkan semakin besar kepedulian masyarakat kepada masa depan negara ini. Jutaan relawan ikut terlibat di semua proses dari kampanye hingga pasca pemungutan suara. Tentu ini menimbulkan optimism tersendiri bahwa jutaan masyarakat ini juga akan terlibat untuk memperbaiki keadaan dan tidak hanya diam saja. Dan yang lebih menggembirakan lagi, contoh-contoh di atas sangat terbantu karen keberadaan teknologi, baik dari sisi prosesnya seperti kawalpemilu, maupun penyebaran informasi melalui media sosial. Inilah bukti bahwa teknologi memang seperti pisau. Di tangan yang benar, ia akan sangat bermanfaat, tapi di tangan yang salah ia bisa juga digunakan untuk kegiatan yang negatif. Namun tugas pemerintah tetap sama, yaitu memperbaiki infrastruktur teknologi dan mendorong penggunaan yang positif, dan bukannya malah terlalu berfokus ke yang negatif saja.

Mari bersama-sama kita jaga spirit gotong royong 2.0 ini melalui crowdsourcing. Merdeka!

Disclaimer: penulis secara terbuka mendukung salah satu capres sehingga tulisan ini mungkin dirasa berat sebelah. Semoga pembaca tidak kehilangan ide utama yaitu besarnya peran crowdsourcing pada proses Pemilu dan tidak hanya memikirkan dukungan politik. It’s over. Let’s move on :-)

Catatan-catatan dari Crowdfunding Asia 2014

Crowdfunding Asia, konferensi pertama di Asia yang khusus membahas crowdfunding, telah dilangsungkan tanggal 4 dan 5 Agustus 2014 lalu. Bertema “Crowdfunding is A Game Changer”, konferensi ini ingin menggugah kita semua untuk menyadari efek revolusioner yang akan dihadirkan oleh crowdfunding. Ada begitu banyak hal yang dibicarakan dalam konferensi dua hari ini, mulai dari hal-hal dasar seperti apa itu crowdfunding dan apa saja jenis-jenisnya, sampai hal yang cukup mendalam mengenai peraturan perundangan, cara kampanye efektif, ekosistem, infrastruktur dan lain-lain. Selain itu, muncul juga presentasi dari para Kreator yang telah sukses menggalang dana hingga jutaan dolar melalui crowdfunding.

Secara keseluruhan, konferensi ini memang lebih ditujukan kepada penyelenggara platform dan pemerintah. Topik-topik yang dibahas lebih berat kepada bagaimana menghidupkan ekosistem yang baik agar crowdfunding bisa beroperasi dengan baik, dalam konteks equity crowdfunding (crowdfunding yang bersifat investasi, bukan donasi). Walaupun demikian, ada poin-poin menarik yang menurut saya bisa membantu kreator dan pewujud di Wujudkan.com. Berikut adalah catatan saya.

 

Crowdfunding Itu Bukan Hal Baru

1.

Pada prinsipnya, crowdfunding sendiri bukan hal baru di seluruh dunia. Sejak dulu, 38% bisnis/produk mendapatkan modal melalui dana yang dikumpulkan dari teman dan keluarga. Di Indonesia sendiri kita banyak melihat contoh ini dalam bentuk budaya gotong royong. Namun apa yang menjadikan crowdfunding luar biasa adalah ketika yang memberikan dana bukan hanya orang yang kita kenal (friends), atau orang yang mengenal orang yang kita kenal (friends of friends). Yang membuat crowdfunding revolusioner adalah ketika difasilitasi internet dan membuat orang yang tidak kita kenal bisa ikut memberikan dana kepada kreasi kita.

2.

Berdasarkan data dari rata-rata kampanye crowdfunding, 30% dana datang dari teman, 30% datang dari temannya teman, baru sisanya datang dari orang yang tidak kita kenal. Dan biasanya, donasi dari tipe pewujud yang berbeda ini juga datang dalam urutan tertentu. Donasi yang datang di awal masa kampanye datang dari teman kita, baru kemudian datang dari temannya teman kita, dan terakhir orang yang tidak kenal dengan kita.

 

Crowdfunding Itu Lebih Transparan

3.

Hal paling utama dari crowdfunding adalah trust, kepercayaan. Semua orang yang terlibat harus selalu terbuka, dan siap di-“audit” kapan saja. Sifat crowdfunding yang menyebarkan informasinya melalui internet justru menguatkan hal ini. Karena penyebarannya melalui internet, justru berarti kita semua harus berusaha lebih keras untuk membangun trust. Caranya dengan memberikan transparansi tentang siapa diri kita, apa yang ingin kita buat, dan juga transparansi selama proses pembuatan kreasi.

4.

Dengan crowdfunding kita juga diajarkan untuk bertanggung jawab terhadap keputusan sendiri. Kreator bisa mandiri dan berkarya dengan bebas tanpa merasa “disetir” oleh investor. Namun ini juga berarti apapun hasil dari produk yang dibuat, menjadi 100% tanggung jawab dari si kreator. Hal ini juga berlaku kepada Pewujud. Memberikan dana melalui crowdfunding berarti tiap Pewujud tahu pasti ke mana uang yang diberikan akan disalurkan. Berbeda dengan sistem donasi yang uangnya dikelola oleh organisasi amal, yang memutuskan ke mana uang tersebut disalurkan setelah uang terkumpul.

5.

Di banyak negara, crowdfunding equity sering dicurigai menjadi alat bagi penipu mengumpulkan uang atau bahkan sebagai alamat pencucian uang. Tapi setelah sekian tahun berjalan, terbukti kasus yang terjadi tidak ada. Sifat crowdfunding yang menjunjung transparansi membuat kampanye crowdfunding harus melakukan banyak hal agar berhasil menggalang dana: data yang jelas mengenai apa yang ingin dibuat, perincian budgetnya, biografi kreator, video yang baik, foto-foto yang baik, dan seterusnya. Belum lagi waktu yang harus dicurahkan untuk menjalankan kampanye yang harus full time. Ada lebih banyak cara menipu yang lebih mudah dengan hasil lebih besar daripada harus mengadakan kampanye crowdfunding.

 

Crowdfunding Itu Kolaborasi

6.

Menurut para kreator yang telah berhasil menggalang dana dari crowdfunding, kunci keberhasilan dari crowdfunding adalah kolaborasi yang baik antara anggota tim kreator itu sendiri, kolaborasi yang baik antara kreator dengan crowdfunding platform, dan kolaborasi yang baik antara kreator dengan pewujudnya. Pada akhirnya, crowdfunding tetaplah sebuah cabang dari crowdsourcing, yang menitikberatkan kepada kolaborasi.

7. 

Tips dari kreator yang telah berhasil menggalang dana lewat crowdfunding:

  • Risetlah terlebih dahulu. Kenali siapa target market kreasi kamu. Cari tahu apakah kreasimu telah cukup menarik untuk mereka.
  • Buat “story” yang menarik. Jelaskan dengan transparan kenapa kamu mau membuat kreasi kamu. Perkenalkan diri kamu. Buat video yang menarik, tampilkan diri kamu di sana.
  • Jujurlah selalu. Jangan lupa semangat kolaborasi. Pewujud kreasimu adalah temanmu, walau kamu tentu sudah mengenalnya.
  • Kumpulkan tim kampanye yang bisa membantu selama masa penggalangan dana
  • Buat penjadwalan kampanye media sosial yang engaging dan berkesinambungan. Kampanye harus berjalan selama masa kampanye (tidak bolong-bolong harinya), dan setiap saat. Buatlah perencanaan topik agar tidak membosankan dan terkesan spam.
  • Menggunakan platform crowdfunding lebih menguntungkan daripada membuatnya sendiri, karena ada banyak detil teknis yang sudah ditangani platform. Selain itu, menggunakan platform yang kredibel akan meningkatkan kredibilitas kreasi kamu.
  • Berikan penghargaan kepada pewujud kreasi kamu yang bisa membuat mereka merasa dihargai sebagai bagian dari kreasi kamu, dam bukan hanya sekedar memberikan barang. Beri sentuhan personal agar mereka merasa spesial.
  • Setelah berhasil mengumpulkan uang, teruslah memberikan update pembuatan kreasi kamu. Jangan sampai kehilangan kepercayaan yang telah mereka berikan.

Mencari Dasar Hukum Crowdfunding Indonesia

Pada tanggal 21 dan 22 Juli lalu, Wujudkan.com turut aktif sebagai narasumber dari Focus Group Discussion (FGD) bertema “Penyelenggaraan Crowdfunding di Indonesia” yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Turut hadir di acara itu berbagai pemangku kepentingan seperti penyelenggara platform, kreator, OJK, dan Bank.

FGD ini dimulai dengan presentasi mengenai kondisi crowdfunding di negara-negara lain di Asia, yang dilakukan oleh Miss Ho Sing Kwek sebagai founder dari Crowdfunding Asia, konferensi crowdfunding Asia yang pertama. Lalu dilanjutkan dengan presentasi dari tiap pemangku kepentingan yang hadir, dengan Wujudkan.com sebagai wakil dari penyelenggara crowdfunding platform. Di akhir FGD, disepakati bahwa diskusi ini masih perlu diteruskan untuk menentukan dasar hukum pelaksanaan crowdfunding, terutama untuk equity-based crowdfunding.

Sebagai respon dari langkah positif yang telah dilakukan oleh Kemenparekraf ini, salah satu founder Wujudkan.com yang juga seorang praktisi hukum, Zaki Jaihutan, memberikan pandangannya mengenai dasar hukum pelaksanaan crowdfunding di Indonesia. (Mandy Marahimin)

Dasar Hukum Crowdfunding di Indonesia

oleh: Zaki Jaihutan

 

dasar hukum crowdfunding

Banyak di antara kita yang bingung, sebenarnya dasar hukum aktivitas Crowdfunding di Indonesia ini apa ya? Bahkan, ada kerancuan seolah-olah kalau namanya Crowdfunding, itu pasti jadi urusannya Otoritas Jasa Keuangan atau OJK. OJK memang terkenal sebagai pengawas lembaga keuangan seperti perbankan. Mudah-mudahan penjelasan berikut bisa membuka pemahaman kita.

 

Crowdfunding dan Investasi 

Sebelumnya mari kita telaah dulu, Crowdfunding ini sebenarnya apa. Istilah Crowdfunding ini dipergunakan untuk merujuk pada aktivitas pengumpulan dana dari masyarakat umum, biasanya melalui media internet (lihat definisi Crowdfunding pada Oxford Dictionary Definition of Crowdfunding). Ada beberapa definisi lain yang kurang lebih sama, tapi secara keseluruhan, aktivitas Crowdfunding ini merujuk pada aktivitas pengumpulan dana melalui internet.

Kalau melihat praktik Crowdfunding pada umumnya, Crowdfunding bisa dibedakan menjadi:

- Reward-base,

Biasa dipakai untuk kreasi budaya seperti pembuatan film, teater atau pembuatan sistem software dll. Dalam sistem ini, masyarakat pendana (Pewujud) tidak akan memperoleh hasil investasi berupa keuntungan finansial. Mereka akan mendapat akses pada produk yang dibuat, seperti mungkin tiket gratis untuk pertunjukan perdana dari film yang dibuat. Jadi sistem ini terasa lebih bernuansa sosial dan lebih seperti sumbangan (meski dengan iming-iming hadiah tertentu).

- Equity-base,

Nah, kalau ini lebih bersifat investasi (ada keuntungan finansial yang bisa diharapkan), dan memang biasanya lebih banyak dipakai untuk proyek bisnis. Pewujud akan diberikan semacam saham, atau jatah dari keuntungan proyek, sesuai dana yang dimasukkan.

- Credit-base atau lending,

Ini juga memiliki sifat investasi. Bedanya dengan equity base, lending memberi pinjaman bagi proyek-proyek atau bisnis tertentu. Jadi, Pewujud nanti memutuskan untuk mengumpulkan uang untuk dipinjamkan kepada pemilik proyek, tentunya nanti dengan keuntungan bunga.

 

Crowdfunding dengan Sifat Investasi 

Kembali ke pertanyaan apa dasar hukum Crowdfunding di Indonesia, mesti dilihat apa aktivitasnya bersifat investasi atau tidak. Nah, ketika aktivitasnya bersifat investasi, sangat mungkin kegiatan tersebut bisa menjadi daerah wewenang OJK, seperti diatur dalam Undang-undang Nomor 21 tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan (UU OJK).

Pasal 6 UU OJK menyatakan bahwa OJK memiliki wewenang untuk mengawasi bank, institusi keuangan bukan bank yang mencakup dana pensiun, perusahaan pembiayaan, asuransi, jasa keuangan lainnya dan pasar modal.

Aktivitas investasi seperti equity based crowdfunding, dapat dilihat sebagai aktivitas penawaran umum karena aktivitas itu menawarkan saham, dan penawaran umum seperti ini dapat dianggap bagian dari aktivitas pasar modal (lihat Pasal 1 dari Undang-undang Nomor 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal).

 

Crowdfunding yang Tidak Bersifat Investasi

Terus, kalau tidak bersifat investasi?

Untuk setiap pengumpulan dana yang bernuansa sosial, sebenarnya sudah ada Undang-undang Nomor 9 tahun 1961 tentang Pengumpulan Uang atau Barang (UU Pengumpulan Barang).

Pasal 1 Undang-undang Pengumpulan Barang menyatakan bahwa undang-undang ini mengatur setiap setiap usaha mendapatkan uang atau barang untuk pembangunan dalam bidang kesejahteraan sosial, mental/agama/kerokhanian, kejasmanian dan bidang kebudayaan.” Pasal 2 dan Pasal 3 dari undang-undang ini menyatakan bahwa kegiatan pengumpulan uang atau barang tersebut harus mendapat izin dari instansi yang berwenang, dalam hal ini Menteri Kesejahteraan Sosial kalau pengumpulan itu dilakukan di seluruh wilayah Indonesia, Gubernur untuk daerah tingkat I (atau provinsi) dan Bupati atau Walikota untuk daerah tingkat II.

Jadi, Crowdfunding dengan reward base harus meminta izin Menteri Sosial, atau Gubernur ataupun Walikota? Belum tentu. Pasal 2 ayat (2) menyatakan bahwa pengumpulan uang atau barang yang dilakukan di lingkungan terbatas, tidak memerlukan izin. Pengertian lingkungan terbatas di sini bisa mencakup lingkungan geografis dan golongan kemasyarakatan, atau contoh lingkungan terbatas lainnya sekolah, kantor, desa, hadirin dalam suatu pertemuan, anggota-anggota suatu badan, perkumpulan dan lain-lain (lihat bagian penjelasan dari Pasal 2 ayat (2) UU Pengumpulan Barang).

Crowdfunding melalui internet pada umumnya akan meminta calon Pewujud-nya untuk mendaftar pada situs Crowdfunding yang bersangkutan, dan dengan sendirinya calon Pewujud menjadi anggota. Artinya sistem keanggotaan Crowdfunding dapat dilihat sebagai suatu “perkumpulan”, dan karenanya dapat dianggap sebagai suatu lingkungan terbatas.

Dengan memperhatikan hal di atas, masih terdapat ketidakjelasan apakah memang Undang-undang Pengumpulan Barang bisa begitu saja diterapkan pada Crowdfunding dengan reward base. Kita harus ingat juga bahwa Undang-undang Pengumpulan Barang merupakan ketentuan lama yang tidak siap mengakomodir perkembangan seperti Crowdfunding, sehingga mungkin banyak ketentuan di dalamnya yang tidak sesuai.

 

Kesimpulan 

Dengan melihat penjelasan singkat di atas, aktivitas Crowdfunding memang belum memiliki pengaturan tersendiri di Indonesia, dan harus dilihat bagaimana persisnya setiap aktivitas itu dijalankan untuk menentukan apa ketentuan yang berlaku bagi aktivitas tersebut. Di atas telah disebutkan contoh bahwa aktivitas Crowdfunding dimana terdapat unsur penawaran saham seperti Equity Based Crowdfundingi dapat dilihat sebagai aktivitas pasar modal, dan jatuh dalam pengawasan OJK.

Akan tetapi untuk Reward based Crowdfunding, masih terdapat ketidakjelasan hukum. UU Pengumpulan Barang mungkin dapat diberlakukan jika Crowdfunding tersebut tidak mewajibkan keanggotaan, dan hal seperti ini mungkin langka. Itupun belum tentu perijinan yang diwajibkan sudah tersedia, mengingat barunya bentuk Crowdfunding ini.

Dengan adanya “kekurangan” hukum ini, tidak mudah untuk menentukan apa dasar hukum dari sebuah aktivitas Crowdfunding. Secara umum saja, hubungan hukum antara Pewujud dengan Kreator mungkin akan dilihat berdasarkan hukum perdata atau pidana biasa. Misalkan jika Kreator berbohong dan secara sengaja melarikan uang Pewujud tanpa menyelesaikan kreasi, dia dapat dituntut pidana penipuan. Atau jika ada perjanjian antara Pewujud dengan Kreator, maka Kreator bisa dituntut secara perdata karena ingkar janji.


Crowdfunding memang suatu penemuan yang unik. Bahkan di negara-negara dimana praktik Crowdfunding ini telah marak, pengaturan hukumnya masih sangat kurang. Perkembangannya betul-betul bergantung pada dinamika kepercayaan masyarakat pada kaum kreatif-nya yang meminta dana untuk kreasi mereka. Mudah-mudahan dengan semakin berkembangnya industri kreatif di Indonesia, pengaturan hukum Crowdfunding ini dipertegas, dan Crowdfunding dapat menjadi alternatif utama bagi para Kreator untuk mewujudkan kreasi mereka.

Minggu Ini: Bantu Perjalanan Kamu Jadi Lebih Menyenangkan!

Ingin tahu apa saja angkutan umum yang lewat di depan kantor, kampus atau sekolah? Atau mau tahu harus naik angkot apa saja dari rumah menuju daerah tujuan? Minggu ini, kamu bisa membantu perjalanan naik angkutan jadi jauh lebih menyenangkan!

Transportumum.com (Panduan Rute Angkutan Umum Online)

transport umum

Kreasi ini akan memberikan informasi apa pun tentang angkutan umum yang kamu butuhkan. Deretan penghargaannya pun menarik. Kamu bisa mengetahui angkutan umum apa saja yang melewati salah satu lokasi tertentu yang sudah kamu tentukan sebelumnya. Nggak cuma itu, kamu juga bisa mencari tahu harus naik angkot apa saja dari satu tempat ke tempat lainnya! Tertarik? Yuk ikut Wujudkan Kreasi Transportumum.com dan buat perjalanan jadi jauh lebih mudah dan menyenangkan!

JKTMoveIn’s Musikal Sekolahan

jktmovein

Dengan bentuk drama musikal, Kreasi ini diharapkan akan menghibur sekaligus menginspirasi pemuda Indonesia. Dengan tema “Win the Future Through Education, Passion & Dreams”, para Pewujud akan mendapatkan penghargaan seperti tiket gratis JKTMoveIn’s Musikal Sekolahan, merchandise notes, dan lainnya. Acara ini didukung juga oleh nama-nama seperti Anies Baswedan, Pandji Pragiwaksono, Chelsea Islan, dan Barry Likumahuwa, lho!