ARTIKEL

Do’s and Don’t’s Penulisan Proyek di Wujudkan.com

Semua orang mungkin pernah atau bahkan sering menulis proposal. Menulis proposal proyek untuk berkampanye di Wujudkan tidak berbeda dengan proposal pada umumnya. Malahan lebih mudah karena di Wujudkan sudah tersedia formulirnya; pemilik proyek tinggal mengisi dan mengirimkannya. Jadi di sini akan dibahas panduan do’s and don’t’s dalam menulis proposal proyek di Wujudkan.

Do’s

Baca kembali proposal kamu setelah mengisi formulir di Wujudkan dan cobalah menanyakan 5W+1H (who, what, why, when, where, dan how) dari proposal yang kamu tulis. Jika ada salah satu elemen 5W+1H yang tidak terjawab, berarti proposal kamu belum lengkap.

Minta bantuan orang lain untuk membaca proposal yang kamu tulis. Bahkan lebih baik lagi jika orang lain tersebut juga belum tahu tentang proyek kamu.  Jika dalam sekali baca mereka sudah mengerti, artinya proposal kamu lulus tes pertama!

Perhatikan ekspresi orang lain yang kamu mintai tolong ketika mereka membaca proposal kamu. Kalau mereka mengernyitkan dahi, artinya ada konten yang kurang dapat langsung dimengerti. Segera tanyakan soal hal ini ketika mereka selesai membaca: di mana bagian yang mereka kurang mengerti dan apa pendapat mereka agar bagian tersebut bisa lebih baik.

Menceritakan siapa kamu sebagai pemilik proyek dan peran kamu dalam pelaksanaan proyek. Dengan bercerita atau format naratif, pembaca akan mengenal kamu secara lebih personal sehingga mereka merasa lebih dekat dan percaya dengan kamu. Orang akan lebih mudah memberikan donasinya kepada orang yang mereka kenal dan percaya kan?

Transparan dalam menginformasikan kebutuhan dana dan rencana penggunaan dana. Dengan begini, pembaca bisa menilai apakah proyek kamu masuk akal atau tidak.

Memberikan reward yang sifatnya personal. Misalnya membuatkan personal thank you video yang diunggah di youtube atau hasil kerajinan tangan yang bertuliskan nama donatur dan kerajinan ini dikirimkan langsung ke alamat domisili donatur.

Don’t’s

Langsung mengirimkan proposal setelah mengisi formulir yang tersedia di website Wujudkan. Hal ini sangat tidak disarankan karena seringkali yang terjadi adalah konten/informasi proyek tidak lengkap.

Me-review sendiri proposal proyek sebelum dikirimkan ke Wujudkan. Seringkali kita menjadi tidak obyektif terhadap tulisan kita sendiri dan tidak bisa mengidentifikasi kekurangannya, apalagi kalau sudah berulang kali merevisinya.

Tidak memperhatikan ekspresi orang lain yang kamu mintai tolong ketika mereka membaca proposal proyek dan langsung percaya dengan  komentar mereka. Karena ada kalanya orang lain merasa malu untuk mengatakan mereka tidak mengerti atau merasa sungkan mengkritik orang lain.

Menyebutkan CV kamu sebagai informasi profil pemilik proyek. Informasi tempat & tanggal lahir, riwayat pendidikan, riwayat pekerjaan dan organisasional serta hobi dalam bentuk pointers seringkali menjadi informasi sekunder yang dibutuhkan pembaca dan tidak enak dibaca – meskipun informasi tersebut tetap penting. Tapi yang lebih penting lagi adalah informasi mengapa kamu orang yang tepat untuk menjalankan proyek tersebut dan apakah kamu dapat dipercaya.

Menyebutkan angka target dana yang bombastis atau terlalu minimalis. Pembaca akan bisa mengukur apakah proyek ini masuk akal dan apakah kamu sebagai pemilik proyek tau apa yang sedang kamu rencanakan.

Memberikan reward yang tidak dapat dinikmati donatur. Misalnya berupa akses untuk menikmati hasil proyek tetapi tidak dibiayai transport dan akomodasinya. Reward seperti ini akan membuat pembaca yang berdomisili jauh dari lokasi proyek enggan memberikan dukungannya.

Kalau kamu sudah lakukan semua do’s di atas, segera kirimkan proposal proyek kamu dan mari me-Wujudkan-nya bersama!

Kamu bisa kirim proposalmu lewat link: Start A Project.

Kategori